Rabu, 14 Agustus 2013

Teori Negara Pasca-Kolonial

Ditulis Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
 Pada awalnya aku berencana untuk menulis artikel ini dalam 4 bagian, yang masing-masing bagian akan mengulas tentang satu teori tentang negara pasca-kolonial secara panjang kali lebar, lebar kali luas, luas kali code, kali gajah wong, kali opak, kali bedok, kali ciliwung kagak ikut (soalnya ada di Jakarta bukan di Yogyakarta) he..he..he.. Namun mengingat space yang diminta oleh redaksi Tikus Merah kalau bisa maksimal 3 halaman aja, maka aku berusaha seringkas-ringkasnya, luar biasa ringkasnya untuk memaparkan 4 teori negara pasca kolonial di situs Tikus Merah yang selalu merah menyala ini. Baiklah, supaya kagak dibilang kebanyakan bacot atawa nyocot, berikut ini akan aku mulai koaranku tentang 4 teori negara pasca-kolonial:
Teori pertama: Tentang teori negara netral-budiman. Dalam teori ini dikatakan bahwa eksistensi negara dianggap netral, artinya negara mengatasi semua kepentingan kelas-kelas yang ada, tidak berpihak. Negara model yang kayak gini dianggap sebagai negara yang baik hati/budiman, negara yang memosisikan dirinya sebagai polisi yang hanya bereaksi apabila aturan-aturan hukum dan ketertiban umum terganggu. Di dalam perkuliahan [diberbagai Universitas dan Pakultas <<< Pake huruf “P” bukan “F” sengaja untuk mengejek sekolah borjuis] negara model kayak gini biasanya dinamakan negara penjaga malam.
Kagak cuma memposisikan diri sebagai polisi doang, negara model kayak gini ni juga ngerasa dia tu bertanggung jawab sama kesejahteraan masyarakat. Terus yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: gimane caranya ni negara ngesenjahterain rakyatnye? Jawabanye adalah: dengan cara mendorong pertumbuhan dalam pembangunan.
Nyok kita nanya lagi nyok, kita tanyain tu pertumbuhan yang dia maksud pertumbuhan yang kayak gimane? Apa sama dengan tumbuhnya bulu ketek atau bahkan bulu jembut manusia? (sori banget nich emang sengaja kata sarkasme ini gue lontarin, karena memang pantes kata-kata kayak gini dilontarin untuk teori negara model kayak gini: negara sok netral, sok budiman!).
Pertumbuhan yang dimaksud dalam teori negara ini artinya kagak lain dari semakin gendut kas negara, semakin pertumbuhannya oke, mantap, kagak perlu memble, kagak perlu dower ewer.. ewer.. (cocotmu, su!). Intinya begini, kagak perduli tu negara dapet pasokan doku (uang/kekayaan) dari mana, dari kelas mana, dan dari hasil ngapain, yang penting kalao sesuatu itu bisa membuat kas negara gendut (diantaranya, misalnya mencabut subsidi untuk rakyat miskin atau memelihara bajingan yang bernama kapitalisme) negara akan mendukungnya, memfasilitasinya, dan siap untuk menjadi anjing penjaga (watch dog)-nya.
Udah ah nyerocosnya tentang teori negara netral-budiman (ingat..ingat.. spacenya dibatasin..iso-iso spes e lower wes..ewes..ewes.. bablas ANGGIN e Mas-Boy, eh maksudnya angine… he..he..he..), gue sekarang mau bergerak mamaparkan tentang teori negara dependensi (teori ketergantungan). Teori yang ke-2.
Dalam teori ini negara dianggap sebagai pihak yang lemah dan bertekuk lutut oleh kekuatan kapitalis-imperialisme atau kekuatan kapitalisme asing. Negara hanya berposisi sebagai “komprador (perantara/jongos/budak)” bagi kepentingan kapitalisme internasional yang memakan dengan rakus kekayaan di suatu negara. Negara yang model kayak gini bisa diibaratkan sebagai negara pelayan yang dengan setia melayani kerakusan ular naga nyai blorong. Yoi Friends, ibarat ular naga nyai blorong (dalam mitos cerita jawa), mulut ular naga ini ada di negara-negara dunia ke-3 yang dengan rakusnya memakan-lumat kekayaan alamnya, sedangkan perutnya ada di luar negeri. Dalam teori ini, kapitalisme domestik diposisikan sebagai gir kecil yang menggerakan gir yang luar biasa besarnya, sebuah gir mesin besar yang bernama kapitalisme internasional. Contoh konkrit dari logika bekerjanya gir kecil untuk kepentingan gir besar adalah hubungan antara Indonesia dengan Kapitalisme Amerika serikat, dimana Amerika Serikat menguasai 80% pertambangan migas di Indonesia dan Indonesia hanya diposisikan dirinya sebagai kompradornya saja… dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya… silahkan pembaca mencarinya sendiri.
Dalam teori ketergantungan ini, negara dunia ke-3 memang selalu di giring untuk tergantung dengan kapitalisme asing (baca: perusahaan transnasional-luar negari), sehingga negara bisa selalu melayani kepentingan kerakusan kapitalis-kapitalis asing (imperialis). Negara model kayak gini kagak mau secara terang-terangan dia ngomong kalau dia itu jongosnya kepentingan asing, kalao dia ngomong terus terang TENGSIN DONG! Nah, untuk menjaga dan mencegah agar negara enggak tengsing, maka dibuatlah bualan kalau setiap kebijakan negara yang dirumuskan semata-mata untuk kepentingan rakyat (bukan untuk kepentingan asing!), kalau ada pencabutan subsidi untuk rakyat kecil alasannya APBN (Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara) terancam jebol (padahal sing jebol kuwi lambemu!), kalau APBN jebol dalihnya rakyat juga yang sengsara. Kalau negara menjual BUMN dalam bentuk privatisasi alasannya agar efesien dan mendorong daya saing yang tangguh sehingga akan membuat lebih baik kinerja BUMN. Kalau pedagang kaki lima digusur sama SATPOL KEPLE itu demi untuk kelancaran bersama. Dan lain-lain. Dan sebagainya banyak banget contohnya…….. O, iya, untuk teori ketergantungan ini, menurut aku teorinya Samir Amin menarik tu untuk dipelajari.
Teori yang ke-3. Yakni teori negara dengan otonomi relatif. Dalam teori ini negara pasca-kolonial dianggap memiliki otonomi relatif, dan keotonomian relatifnya ini diperoleh oleh negara pada saat negara masih dalam kondisi terjajah, dan dalam kondisi terjajah itulah negara mendapatkan dorongan untuk merangsang munculnya benih-benih kapitalisme domestik. Benih-benih kapitalisme domestik ini, nanti pada gilirannya akan tumbuh, ketika negara telah terlepas dari kondisinya yang terjajah. Pertumbuhan kapitalisme domestik ini akan memosisikan negara untuk semakin memasok “power”-nya untuk perkembangan dan pertumbuhan kapitalisme negara. Intervensi negara terhadap peranan kapitalisme domestik inilah yang merupakan rujukan dari model negara kesejahteraan (welfare state) yang dikumandangkan oleh John Maynard Keynes.
Dalam teori ini, negara dianggap memiliki kepentingan untuk mensejahterakan rakyatnya. Dan untuk merealisasikan kepentingannya inilah, maka negara selalu mendorong terbentuknya koperasi-koperasi dalam perekonomian masyarakat. Aneh benar teori ini, di satu sisi negara menempatkan diri untuk mendorong terbentuk dan terbangunnya kapitalisme domestik yang kuat, yang artinya mendorong kapitalisme untuk dapat melumat saingan-saingannya, sedangkan saingan yang dimaksud bukan hanya pesaing dari luar negeri (kapitalis luar negeri) tok til.. kintil.. kintil.., tetapi pesaing di dalam negeri. Terus kalao negara mendorong berdirinya koperasi, sudah jelas koperasi yang yang didorongnya itu akan hancur (karena modalnya yang kecil) apabila didorong untuk bersaing dengan kapitalisme domestik yang modal atau kapitalnya jauh lebih kuat dan besar. Yah, sungguh teori yang aneh dan ganjil… jil.. gonjal.. ganjil… dut! … jil.. gonjal.. ganjil… dut! … jil.. gonjal.. ganjil… dut…!!!!! *garing*
Teori yang terakhir atawa teori yang ke-4. Teori negara yang berorientasi pada sudut pandang produksionis-akumulasi kapital. Dalam teori ini digariskan hal-hal sebagai berikut ini:
Negara pasca-kolonial seperti negara-negara kapitalis pada umumnya memberikan jaminan terhadap pra-kondisi pra-kondisi yang diperlukan bagi kepntingan akumulasi kapital. Negara memiliki peranan yang sangat signifikan dalam memberi jalan kepada proses akumulasi primitif.
Negara tidak terelakan memilki kepentingan untuk memajukan kapitalis-kapitalis internasional, tetapi tanpa harus dia menjadi “komprador.” Sebaliknya negara bisa memosisikan dirinya memiliki peranan yang penting untuk mengkonsolidasikan kelas kapitalis domestik, dan memajukan kepentingan-kepentingannya dengan konflik potensial (laten) dengan kapitalis-kapitalis internasional.
Sifat represif negara engga perlu bertentangan dengan kepentingan-kepentingan kelas kapitalis domestik. Sebaliknya, represi dapat memiliki andil yang penting dalam mengkonsolidasi kelas-kelas kapitalis domestik, khususnya pada tahap akumulasi primitif.
Demikianlah 4 teori negara yang bisa aku paparkan dalam kesempatan ini. Semoga bermanfaat bagi siapa aja yang membacanya.

Tipuan Sejarah Politik

Oleh: Bisma Yadhi Putra
ADA seorang pemuda dungu. Sejak kecil dibodohi orangtuanya.
Setelah berjuang selama lima tahun sejak kelahirannya, ibu-bapaknya dapat memastikan mereka tak akan punya anak lagi. Jadilah ia anak satu-satunya. Jelas-jelas ia akan dilindungi habis-habisan. Termasuk secara berlebihan.
Sejak kecil, ia jarang keluar rumah. Orangtuanya melarang keras. Ketika mereka pergi kerja, ia diasuh seorang pembantu. Sampai dewasa pun begitu. Perjalanan terjauhnya cuma sampai pintu gerbang rumah. Ia bisa saja kabur, tetapi sama sekali tak mau. Kalaupun dipaksa keluar gerbang, ia akan memberontak agar tetap di dalam. Berada di pintu gerbang saja membuatnya pucat dan merinding. Ini akibat kejahatan serius ibu-bapaknya.
Demi melindungi putra satu-satunya, kedua orangtuanya berbohong. Sejak kecil ia dilarang mencari tahu tentang kebenaran sebuah kekuatan gelap yang diceritakan padanya. Orangtunya tak menginginkan tubuh anaknya rusak, misalnya karena terjatuh atau kecelakaan di jalan raya. Maka perlindungan total dilakukan. Mereka tak sadar, perlindungan berlebihan terhadap tubuh justru membatasi kemampuan otak seseorang.
Ayahnya menceritakan, desa tempat mereka tinggal hanya memiliki satu pintu gerbang. Tiada jalan keluar lain, karena di sebelah belakang-kiri-kanan desa adalah jurang terjal. Di masing-masing sisi jurang ada ular raksasa menunggu. Desa itu terletak di salah satu sisi gunung. Yang paling terpatri dalam ingatannya adalah cerita soal pohon besar pemakan manusia tepat di gerbang keluar-masuk desa.
Ibunya menerangkan, pohon itu memiliki sebuah mulut dengan lebar seukuran anak-anak. Setiap hari pasti ada seorang anak penduduk desa jadi korban. Tak ada yang mampu menebangnya, karena memang begitu keji. Pohon itu tak bisa berjalan mencari mangsa, tetapi dibantu oleh siluman jahat. Ibunya berpesan, jangan pernah sekalipun keluar gerbang rumah kalau tak mau diculik siluman.
Berhari-hari ia hanya berdiam diri di rumah. Bahkan, orangtuanya tak mengizinkan ia sekolah keluar desa. Sebab itu dicari pengasuh yang sekaligus bisa mengajari bermacam pelajaran yang lazimnya diajarkan di sekolah. Orangtuanya meminta guru yang mereka tunjuk mengajari politik. Itu diharamkan.
Jangankan mencari tahu bentuk atau ada-tidaknya pohon pemakan manusia, ia bahkan dilarang bertanya tentang kebenaran cerita tersebut. Sejak awal dipaksa percaya, dan tidak ada pertanyaan untuk cerita itu. Akan ada bentakan keras untuk pinta melihat langsung pohon tersebut, termasuk sekadar bertanya bagaimana detail bentuk, warna, dan nama anak-anak yang sudah dimakan.
Suatu malam ia bermimpi buruk. Di malam menjelang ulang tahunnya, ibu-bapak menemuinya di kamar. Mereka bilang, di bawah ada banyak kado yang harus dibuka. Ia diminta merem. Matanya ditutup kain hitam. Ia dituntun berjalan turun tangga. Wajahnya bahagia. Tersenyum dalam tatapan gelap. Begitu sumringah, tak sabar melihat kado-kado berkilauan. Ada banyak orang menantinya, sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dalam hatinya, ketika tutup matanya dilepas, ia diminta segera meniup lilin.
Langkahnya dihentikan. Ia diminta membuka sendiri kain penutup mata setelah hitungan ketiga. Begitu dilepas, seketika raut wajahnya heran. Perlahan rasa tegang menanjak. Ia dalam kegelapan. Tak tampak apa pun di depan. Kecuali di kiri-kanan ada pohon-pohon bambu dan semak-semak. Beberapa saat kemudian, ia baru bisa memastikan: posisinya sedang di luar pintu gerbang rumah.
Ketika menoleh ke belakang, dilihatnya ibu-bapak dan semua tamu undangan tertawa seperti setan. Ibunya cepat-cepat mengunci gerbang rumah. Mereka melambai-lambaikan tangan. Ia berlari sambil menangis histeris. Memohon gerbang dibuka.
Ia terjaga dari mimpi. Segera menyimpulkan: orangtua yang mengizinkan anaknya bermain di luar rumah dan mengenal banyak hal adalah orangtua yang jahat. Ia merasa tak perlu mencari tahu lebih banyak tentang dunia. Setiap mitos menjelma menjadi logika. Setiap hasrat untuk mengecek kebenaran merupakan kekeliruan. Begitulah cara berpikir pemuda goblok ini. Akibatnya, ia tak berinisiatif mencari kebenaran lain. Hanya ada kebenaran tunggal, yakni cerita bohong orangtuanya.
Semua kebohongan berakhir ketika ibu-bapaknya meninggal. Seseorang berhasil meyakinkannya bahwa semua cerita adalah mitos. Ketika ia berjalan menuju pemakaman, satu per satu fakta terkuak. Desa itu bukan terletak di sebuah gunung. Tidak pula memiliki gerbang. Ada banyak jalan menuju ke sana. Desanya berbatasan langsung dengan kota. Pohon pemakan manusia juga jelas-jelas hanya kebohongan besar. Yang ada justru pohon-pohon penyejuk manusia.
Ibu-bapaknya tak ingin pikiran anaknya diracuni beragam pengetahuan. Mereka takut putranya rusak akibat perkembangan zaman. Sebab itulah mereka berbohong dengan tujuan menyelamatkan. Namun, hasilnya nihil: anak mereka menjadi seorang pemuda bodoh meski hidup dalam keluarga kaya raya.
Silakan mengaitkan cerita di atas dengan tragedi manipulasi sejarah atau ilmu pengetahuan yang berada di lingkungan sekitar Anda. Atau bahkan yang Anda alami sendiri. Tak mesti menunggu hingga orang-orang yang menceritakan mitos kepada kita meninggal dunia. Manusia dikodratkan berakal dan mampu membongkar kepalsuan yang diumbar oleh pelestari kegoblokan.***

Disiplin Waktu

 Oleh: Ismantoro Dwi Yuwono
Para kamerad haruslah memiliki disiplin waktu yang ketat sebagai syarat untuk mengambil momentum-momentum yang tepat untuk menghantam watak kebinatangan sistem kapitalisme tepat di ulu hatinya (Ismantoro Dwi Yuwono, Rabu 13 Juli 2013).
Surplus Value
Kejahatan yang paling parah dalam ranah produksi adalah perampasan nilai lebih (surplus value) oleh satu pihak terhadap pihak lain. Perampasan nilai lebih secara sederhana dapat diilustrasikan seperti ini:
Misalnya si Poniman adalah Boss yang memiliki modal yang cukup untuk membeli alat produksi dan bahan baku untuk meproduksi sebuah komoditi. Taruhlah untuk membeli alat produksi dan bahan baku tersebut si Poniman harus menanamkan modalnya sebesar Rp. 100 juta dengan perincian Rp. 60 juta untuk membeli perkakas produksi (alat produksi) dan sisanya Rp. 40 juta untuk dibelikan bahan baku. Setelah alat dan bahan baku produksi tersebut telah dibeli oleh si Poniman, maka tindakan si Poniman selanjutnya adalah mempekerjakan si Luna Maya untuk mengubah bahan baku yang tersedia tersebut menjadi sebuah komoditi. Dengan apa si Luna Maya mengubah bahan baku tersebut menjadi komoditi? Jawab: dengan alat produksi yang sudah ada.
Dengan durasi waktu 4 jam Luna Maya sebenarnya sudah bisa memproduksi satu komoditi yang siap dikonsumsi oleh calon konsumen. Dan, jika dipasarkan satu komoditi hasil kerja si Luna Maya tersebut memiliki nilai jual Rp. 100 juta. Tapi karena si Luna Maya bekerja pada si Poniman, maka (setelah ditandatanganinya perjanjian kerja antara si Poniman dan si Luna Maya) si Luna Maya memiliki kewajiban untuk bekerja selama jangka waktu 8 jam. Jadi, dalam waktu 8 jam si Luna Maya dapat meproduksi dua komoditi, yang jika dipasarkan total akan menghasilkan uang sebesar Rp. 200 juta.
Sekarang mari sodorkan pertanyaan sebagai berikut: berapa besar si Luna Maya mendapatkan gaji dari si Poniman setelah bekerja selama 8 jam? Jawab: Rp. 50 juta. Berangkat dari sini, marilah kita berhitung. Tadi sudah aku sampaikan bahwa dalam durasi waktu 8 jam si Luna Maya telah meproduksi dua buah komoditi yang memiliki nilai jual Rp. 200 juta. Kemana Rp. 200 juta ini akan didistribusikan? Jawab: Rp. 100 juta akan kembali kepada si Poniman sebagai modal kembali dan Rp. 50 juta masuk ke kantong si Poniman sebagai keuntungan (profit), dan sisanya yang Rp. 50 juta baru kemudian didistribusikan untuk menggaji si Luna Maya. Dari sini terpindai bahwa ada sebesar Rp. 50 juta yang dirampas oleh si Poniman [yang tidak bekerja] dari si Luna Maya [yang bekerja membanting tulang].”
Rp. 100 juta [dari Rp. 100 juta selebihnya yang dihitung sebagai modal kembali] yang dihasilkan oleh si Luna Maya itu dalam tradisi Marxis biasa diistilahkan dengan surplun value (nilai lebih) yang secara esensial merupakan ekspresi dari kelebihan waktu/durasi/jam kerja. Nah, karena kelebihan jam kerja ini merupakan hal yang sangat luar biasa pentingnya bagi para pemiliki modal (kapitalis), maka para kapitalis berkepentingan untuk mewacanakan DISIPLIN WAKTU dalam dunia kerja. Bahkan untuk memberikan dorongan agar para pekerja berdisiplin waktu, seringkali perusahaan selalu memberikan reward kepada para pekerja yang dinilai selalu disiplin waktu dalam bekerja. Ada berbagai bentuk reward yang dapat diberikan oleh perusahaan pada para pekerjanya yang berdisiplin waktu, bisa dalam bentuk hadiah, selusin celana dalam sampai hadiah mewah berupa mobil atau rumah. Tidak berhenti sampai di sini, untuk menghegemoni otak emosi para pekerja, para pekerja yang berdisiplin waktu ini dielu-elukan sebagai pekerja teladan yang patut untuk ditiru, dicontoh, dan diikuti jejaknya. Sedangkan para pekerja yang tergolong malas (tidak berdisiplin waktu), sering bolos kerja (tidak berdisiplin waktu), dan sering terlambat datang (tidak berdisiplin kerja), terlebih lagi sering terlibat dalam aksi-aksi massa (pemogokan, demonstrasi, dan aktiv dalam organisasi serikat pekerja-merah), dicap (stigmatisasi) sebagai pekerja yang tidak patut untuk dicontoh atau diteladani, mereka itu, menurut para Boss (kapitalis) adalah hanyalah segerombolan bajingan yang tidak tahu diuntung.
Ekspresi Perlawanan
Penindasan dalam bentuk perampasan surplus value melalui mekanisme pencurian kelebihan jam kerja tersebut SECARA SADAR dan TIDAK SADAR akan memunculkan sebentuk rasa ketidakpuasan dan marah yang terekspresikan dalam bentuk aksi perlawanan.
Secara sadar para pekerja tentunya akan mencari saluran organisasi untuk mengespresikan kondisinya tersebut, dan secara tidak sadar para pekerja akan mengespresikannya dalam bentuk-bentuk lain yang halus dan tidak kentara (tidak tampak). Ulasan berikutnya dalam tulisan ini akan bergerak untuk menyibak ketidak kentaraan perlawanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari kelas pekerja yang menduduki kelas mayoritas di tengah-tengah kehidupan massa rakyat.
Ekpresi pertama: rasa lega dan senang ketika jam kerja sudah berakhir [untuk sementara] atau sudah waktunya untuk pulang kerja.
Aku yakin hanya dalam cerita-cerita fiksi, seperti cerita kelas pekerja yang diperankan oleh tokoh kartun Sponge Bob yang merasa senang-bahagia apabila hasil kerjanya dirampas oleh sang Boss (Mr. Krab), dalam dunia nyata para pekerja, walau pun lisannya mengatakan disiplin waktu dalam bekerja, pasti merasa tertekan apabila hasil kerjanya dirampas oleh si Boss dan hal ini terekspresikan dengan meledaknya rasa lega dan gembira pada saat para pekerja mendengarkan lonceng atau bell berbunyi yang menandakan bahwa jam kerja pada hari itu sudah berakhir, dan sudah saatnya para pekerja pulang ke rumahnya masing-masing untuk beristirahat untuk kemudian datang kembali dikeesokan harinya untuk bekerja, mengerjakan hal yang serupa.
Secara psikologis rasa senang-gembira waktu para pekerja mendapati telah tibanya jam pulang tersebut sebenarnya merupakan ekspresi dari perlawanan para pekerja terhadap kondisi kerja yang menekan-merampas hasil kerjanya. Para pekerja melakukan perlawanan karena 1. Hasil kerjanya dirampas oleh si Boss dan ke-2. Si pekerja teralienasi (terasing) dengan pekerjaannya sendiri (apa yang dia kerjakan bukan merupakan keinginan kuat jiwanya tetapi dijejalkan dari luar ke dalam dirinya). Dan ke-3. Jam kerja yang dilaluinya begitu sangat membosankan dan menjengkelkan.
Pekerja yang merasa hasil pekerjaannya adalah miliknya bukan milik Bossnya dan dalam bekerja dia tidak teralienasi, maka apa yang dia kerjakannya akan membuatnya merasa senang justru apabila jam kerja tidak dibatasi dan si pekerja itu sendirilah yang membatasinya [menrut kemampuan dan kesanggupannya sendiri]—artinya pembatasan jam kerja tidak berasal dari luar diri si pekerja itu sendiri. Keikhlasan pekerja dalam bekerja adalah pusat dari kebersatuan antara pekerja dengan pekerjaannya, namun harus selalu diingat bahwa keterpusatan ini bukan dalam kerangka perampasan tetapi dalam kerangka memanusiakan pekerja pada pekerjaannya. Dan, kondisi seperti ini tidak mungkin dapat ditemui oleh para pekerja dalam sistem kapitalisme, karena kondisi seperti ini hanya dapat ditemui oleh para pekerja dalam sistem sosialisme-komunis.
Mengapa dengan meledaknya perasaan lega dan senang-gembira tersebut aku menghubungkannya dengan sebentuk perlawanan terselubung? Begini Pace, hal itu menurutku adalah ekspresi dari penolakan terhadap panjangnya waktu kerja, penolakan terhadap pendisiplinan waktu ala kapitalistik, dan penolakan terhadap aksi perampasan hasil kerja. Bukankah perlawanan itu artinya penolakan?! MELAWAN BERARTI MENOLAK!
Perasaan lega dan senang-gembira ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada saat jam kerja berakhir untuk sementara saja tetapi hal ini juga terekspresikan pada saat jam istirahat kerja telah tiba. Pada saat ini biasanya para pekerja akan menikmati benar-benar jam istirahatnya bahkan para pekerja akan dengan senang hati memolor-molorkan jam istirahatnya yang sedang dinikmatinya tersebut. Lebih jauh lagi, hal ini juga terekspresikan pada hari-hari libur yang diberikan oleh si Boss kepada para pekerja. Pada hari libur si pekerja akan memanfaatkan benar-benar untuk bermalas-malasan sebagai pembalasan terhadap hari-hari kerjanya yang menekannya diluar hari libur.
Ekspresi kedua, ketidak disiplinan waktu para pekerja dalam kehidupan [bermasyarakat] di luar jam kerja. Ketidak disiplinan waktu (terlambat hadir) di luar jam kerja menurukku juga merupakan ekspresi dari perlawanan kelas pekerja terhadap tekanan yang diberikan kapitalis kepada para pekerja di dunia kerja. Betapa sangat menyiksanya disiplin waktu kerja di dunia kerja bagi kelas pekerja, dia ingin melakukan perlawanan, tetapi jika hal itu dilakukan, maka acaman yang akan dihadapinya adalah: PECAT/PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ancaman inilah yang kemudian yang mendorong kelas pekerja mengalihkan perlawanannya tersebut ke dalam bentuk lain: DOYAN TERLAMBAT atau TIDAK DISIPLIN WAKTU saat menghadiri pertemuan atau memenuhi janji-jani yang dibuat dengan pihak lain di luar jam kerjanya.
Para intelektual borjuis [Indonesia] biasanya mengasal-usulkan budaya terlambat pada ulah Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama berabad-abad. Mereka beranggapan bahwa budaya ini dulu diajarkan oleh penjajah Belanda yang selalu tidak disiplin waktu dan kemudian ditiru oleh pribumi. Walau pun Jepang—yang pernah menjajah Indonesia—mengajarkan disiplin waktu, tapi karena Belanda lebih lama mejajah Indonesia, maka kebiasaan Belanda lah yang diadopsi/ditiru oleh pribumi/rakyat Indonesia.
Kelakuan para intelektual borjuis yang mengasal-usulkan budaya terlambat tersebut, menurutku keliru, karena mereka tidak menelisik asal-usul budaya terlambat tersebut pada budaya yang lahir dari sistem kebinatangan kapitalisme. Ya jelas mereka tidak akan sudi melakukankan, karena itu adalah perbuatan dosa tidak terampuni. Yaps… kalau mereka melakukannya, sama aja mereka bunuh diri.
Membabi-Buta (Dampak Tidak Sehat!)
Menurutku aksi perlawanan kelas pekerja terhadap sistem kapitalisme dalam bentuk-bentuk tidak langsung (terutama pada bentuk beroperasinya budaya keterlambatan) tersebut adalah bentuk berlawanan yang tidak sehat. Karena hal ini akan memunculkan korban-korban yang tidak berdosa. Alih-alih merupakan ekpresi berlawan terhadap sistem kapitalisme, hal ini tidak menutup kemungkinan pihak-pihak yang bukan merupakan bagian dari agen kapitalisme terhajar/terpukul.
Misalnya begini, jika Anda berjanji dengan teman Anda, Anda akan bertemu dengan teman Anda pada jam yang telah disepakati bersama, tetapi pada saat waktu yang dijanjikan itu telah tiba Anda datang terlambat, bahkan terlambat dengan waktu yang sangat luar biasa molornya… Sudah jelas Anda telah merugikan teman Anda..!!!!!! Teman Anda itu, misalnya, untuk bertemu Anda harus meluangkan waktu, mengagendakannya, bela-belain untuk membatalkan janji dengan pihak lain demi untuk bertemu dengan Anda, eh, Anda malah mengkurangajari teman Anda tersebut dengan datang terlambat… Anda tidak lebih dari seorang yang tidak dapat dipercaya. Penipu!
Esensi dari keterlambatan—diluar dunia kerja dalam kerangka sistem kapitalisme—adalah Anda tidak menghargai waktu. Orang yang tidak menghargai waktu adalah orang yang tidak dapat diajak bekerja sama… paling-paling juga kalau kerjasama, kerjasama yang terjalin pasti akan berjalan tidak baik, sering berantakannya ketimbang sering beresnya….
Mari berlawan terhadap sistem kapitalisme dengan akal dan otak emosi yang sehat dengan cara berorganisasi, menyatukan kekuatan secara militan dengan sabar dan penuh dengan perhitungan…!!!!!!!!!
Sebagai penutup tulisan ini, menurukku, dalam berorganisasi pun kamerad harus melatih kedisiplinan waktu yang ketat. Apa alasannya? Ini alasannya: Para kamerad haruslah memiliki disiplin waktu yang ketat sebagai syarat untuk mengambil momentum-momentum yang tepat untuk menghantam watak kebinatangan sistem kapitalisme tepat di ulu hatinya.