Oleh: Bisma Yadhi Putra
ADA seorang pemuda dungu. Sejak kecil dibodohi orangtuanya.
Setelah berjuang selama lima tahun sejak kelahirannya, ibu-bapaknya
dapat memastikan mereka tak akan punya anak lagi. Jadilah ia anak
satu-satunya. Jelas-jelas ia akan dilindungi habis-habisan. Termasuk
secara berlebihan.
Sejak kecil, ia jarang keluar rumah. Orangtuanya melarang keras. Ketika
mereka pergi kerja, ia diasuh seorang pembantu. Sampai dewasa pun
begitu. Perjalanan terjauhnya cuma sampai pintu gerbang rumah. Ia bisa
saja kabur, tetapi sama sekali tak mau. Kalaupun dipaksa keluar gerbang,
ia akan memberontak agar tetap di dalam. Berada di pintu gerbang saja
membuatnya pucat dan merinding. Ini akibat kejahatan serius
ibu-bapaknya.
Demi melindungi putra satu-satunya, kedua orangtuanya berbohong. Sejak
kecil ia dilarang mencari tahu tentang kebenaran sebuah kekuatan gelap
yang diceritakan padanya. Orangtunya tak menginginkan tubuh anaknya
rusak, misalnya karena terjatuh atau kecelakaan di jalan raya. Maka
perlindungan total dilakukan. Mereka tak sadar, perlindungan berlebihan
terhadap tubuh justru membatasi kemampuan otak seseorang.
Ayahnya
menceritakan, desa tempat mereka tinggal hanya memiliki satu pintu
gerbang. Tiada jalan keluar lain, karena di sebelah belakang-kiri-kanan
desa adalah jurang terjal. Di masing-masing sisi jurang ada ular raksasa
menunggu. Desa itu terletak di salah satu sisi gunung. Yang paling
terpatri dalam ingatannya adalah cerita soal pohon besar pemakan manusia
tepat di gerbang keluar-masuk desa.
Ibunya
menerangkan, pohon itu memiliki sebuah mulut dengan lebar seukuran
anak-anak. Setiap hari pasti ada seorang anak penduduk desa jadi korban.
Tak ada yang mampu menebangnya, karena memang begitu keji. Pohon itu
tak bisa berjalan mencari mangsa, tetapi dibantu oleh siluman jahat.
Ibunya berpesan, jangan pernah sekalipun keluar gerbang rumah kalau tak
mau diculik siluman.
Berhari-hari
ia hanya berdiam diri di rumah. Bahkan, orangtuanya tak mengizinkan ia
sekolah keluar desa. Sebab itu dicari pengasuh yang sekaligus bisa
mengajari bermacam pelajaran yang lazimnya diajarkan di sekolah.
Orangtuanya meminta guru yang mereka tunjuk mengajari politik. Itu
diharamkan.
Jangankan
mencari tahu bentuk atau ada-tidaknya pohon pemakan manusia, ia bahkan
dilarang bertanya tentang kebenaran cerita tersebut. Sejak awal dipaksa
percaya, dan tidak ada pertanyaan untuk cerita itu. Akan ada bentakan
keras untuk pinta melihat langsung pohon tersebut, termasuk sekadar
bertanya bagaimana detail bentuk, warna, dan nama anak-anak yang sudah
dimakan.
Suatu malam ia bermimpi buruk. Di malam menjelang ulang tahunnya,
ibu-bapak menemuinya di kamar. Mereka bilang, di bawah ada banyak kado
yang harus dibuka. Ia diminta merem. Matanya ditutup kain hitam. Ia
dituntun berjalan turun tangga. Wajahnya bahagia. Tersenyum dalam
tatapan gelap. Begitu sumringah, tak sabar melihat kado-kado berkilauan.
Ada banyak orang menantinya, sambil menyanyikan lagu selamat ulang
tahun. Dalam hatinya, ketika tutup matanya dilepas, ia diminta segera
meniup lilin.
Langkahnya
dihentikan. Ia diminta membuka sendiri kain penutup mata setelah
hitungan ketiga. Begitu dilepas, seketika raut wajahnya heran. Perlahan
rasa tegang menanjak. Ia dalam kegelapan. Tak tampak apa pun di depan.
Kecuali di kiri-kanan ada pohon-pohon bambu dan semak-semak. Beberapa
saat kemudian, ia baru bisa memastikan: posisinya sedang di luar pintu
gerbang rumah.
Ketika
menoleh ke belakang, dilihatnya ibu-bapak dan semua tamu undangan
tertawa seperti setan. Ibunya cepat-cepat mengunci gerbang rumah. Mereka
melambai-lambaikan tangan. Ia berlari sambil menangis histeris. Memohon
gerbang dibuka.
Ia
terjaga dari mimpi. Segera menyimpulkan: orangtua yang mengizinkan
anaknya bermain di luar rumah dan mengenal banyak hal adalah orangtua
yang jahat. Ia merasa tak perlu mencari tahu lebih banyak tentang dunia.
Setiap mitos menjelma menjadi logika. Setiap hasrat untuk mengecek
kebenaran merupakan kekeliruan. Begitulah cara berpikir pemuda goblok
ini. Akibatnya, ia tak berinisiatif mencari kebenaran lain. Hanya ada
kebenaran tunggal, yakni cerita bohong orangtuanya.
Semua
kebohongan berakhir ketika ibu-bapaknya meninggal. Seseorang berhasil
meyakinkannya bahwa semua cerita adalah mitos. Ketika ia berjalan menuju
pemakaman, satu per satu fakta terkuak. Desa itu bukan terletak di
sebuah gunung. Tidak pula memiliki gerbang. Ada banyak jalan menuju ke
sana. Desanya berbatasan langsung dengan kota. Pohon pemakan manusia
juga jelas-jelas hanya kebohongan besar. Yang ada justru pohon-pohon
penyejuk manusia.
Ibu-bapaknya
tak ingin pikiran anaknya diracuni beragam pengetahuan. Mereka takut
putranya rusak akibat perkembangan zaman. Sebab itulah mereka berbohong
dengan tujuan menyelamatkan. Namun, hasilnya nihil: anak mereka menjadi
seorang pemuda bodoh meski hidup dalam keluarga kaya raya.
Silakan
mengaitkan cerita di atas dengan tragedi manipulasi sejarah atau ilmu
pengetahuan yang berada di lingkungan sekitar Anda. Atau bahkan yang
Anda alami sendiri. Tak mesti menunggu hingga orang-orang yang
menceritakan mitos kepada kita meninggal dunia. Manusia dikodratkan
berakal dan mampu membongkar kepalsuan yang diumbar oleh pelestari
kegoblokan.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar