Rabu, 14 Agustus 2013

Angkatan 22 Juli

Oleh: Ragil Nugroho
Konon, ketika Maneka—seorang pelacur dengan rajah kuda putih di punggungnya—hendak dikuliti pundaknya, Hanuman—kera putih—tiba-tiba mecungul. Hanuman marah besar melihat Maneka diperlakukan seperti itu oleh suku padang pasir. Ia injak bumi sekuat-kuatnya hingga 200 orang penyiksa si pelacur amblas ke perut bumi. Di atasnya Hanuman lantas membuat totem—tugu peringatan—bagi siapa saja yang akan melakukan angkara. Begitulah yang dituliskan Seno Gumira dalam novel Kitab Omong Kosong.
Angkatan 22 Juli juga punya totem. Dua jumlahnya: [Wiji] Thukul dan Darah Juang. Keduanya yang selalu disembah dan ditaburi karangan bunga dalam setiap persembahan setiap tanggal 22 Juli [dalam kalender matahari].
Dalam edisi khusus Majalah Tempo [Teka-teki Wiji Thukul], semua kader Angkatan 22 Juli yang ada di majalah itu ingin ambil peranan. Akibatnya sulit dibedakan apakah itu kisah tentang Thukul atau tentang keheroikkan Angkatan 22 Juli. Kata-kata untuk memperlihatkan peranan dan keterlibatan dipilih: “Aku sempat takut kalau ditangkap aparat.” [hal.42]. “Kami bawa laptop yang saat itu sangat tebal dengan modem yang suaranya berisik.” [hal.43]. “Saya menerima selebaran-selebaran dan dokumen partai dari kurir partai di Jakarta yang bekerja untuk beberapa universitas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.” [hal.43]. Itu hanya contoh. Secara lengkap silakan baca majalahnya. Yang jelas kalimat-kalimat itu dipilih untuk menunjukkan aku, saya /kami ambil peranan. Thukul telah berhasil diperkuda oleh Angkatan 22 Juli guna menunjukkan kegagah-perwiraan mereka dalam menumbangkan kediktatoran Suharto. Sehingga, meminjam slogan Chairil Anwar: Yang bukan Angkatan 22 Juli dilarang ambil peranan!
Pun, ketika lagu Darah Juang dikumandangkan, seperti dalam reuni para opa dan oma, akan muncul kalimat: “Dulu kita bla bla”….”dulu kami bli bli”…”masa itu kami gituin buruh.”… “ini aksi kami waktu 10 tahun lalu.”…”waktu itu kami dikejar-kejar”, dll, dsb. Karena seperti oma dan opa yang sudah memasuki usia jompo, hanya “dulu” dan “kata lampau lainnya” yang bisa didaur ulang serta dijejerkan untuk memperlihatkan betapa hebatnya masa itu; masa revolusioner; masa ketika acungan tangan kiri dan teriakan seolah-olah bisa membelah langit, dan pijakan kaki bisa menenggelamkan segala angkara. Sekarang dan masa depan tak penting lagi. Sekarang apa yang bisa dibanggakan? Ketika telah banyak yang menjadi jongos Jendral Penculik, kaki tangan Jendral Pembantai, dan babu konglomerat. Jadi benar: yang selalu aktual adalah masa lalu—karena itulah yang bisa diracik lagi untuk menjual hari ini dan masa depan. Ijazah sebagai pelawan Suharto digunakan untuk membasuh dan membenarkan langkah-langkah politik yang kini diambil.
Setiap angkatan lahir dan berakhir karena karya. Ia akan selalu tumbuh ketika masih mampu berkarya, dan akan mati ketika tak mampu melakukan apapun. Pun, Angkatan 22 Juli. Pertanyaannya: kenapa Angkatan 22 Juli mati muda? Mungkin Nabi Khidir benar ketika ia membunuh seorang bayi. Ketika ditanya mengapa bayi tak berdosa itu engkau bunuh, Khidir menjawab: “Kalau besar ia akan menimbulkan prahara.” Mungkin kalau tak mati muda, Angkatan 22 Juli akan menimbulkan prahara sebagaimana dikhawatirkan oleh Khidir. Misalnya, bila sekarang masih hidup dan berusia 17 tahun, bisa jadi beradu kasih dengan Jendral yang dulu menghilangkan saudara sesusuannya.
Atau mungkin sebab kematian yang belia itu lebih cocok versi Pramoedya Ananta Toer. Pada majalah Play Boy edisi I April 2006, Pram berkata: “Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, mesti hidup, tumbuh, berkembang bersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Sudjatmiko] lari, masuk ke PDI [P].” Kata “pimpinannya” sebetulnya alegori, tak menunjuk satu orang walaupun nama disebut di situ. Artinya, Angkatan 22 Juli tumpas karena rapuh dari dalam, bukan karena dihancurkan oleh kekuasaan. Sebagai petunjuk, ketika diberi ruang hidup di alam demokrasi yang lebih terbuka, Angkatan 22 Juli justru tewas, tak mampu tumbuh dan menyesuaikan diri.
Sekarang memang masih ada yang mendaku bahwa Angkatan 22 Juli masih eksis. Tak masalah. Perkumpulan ini dipimpin oleh kepala suku dari Solo [kenapa tak disebut ketua atau yang lainnya, karena sebagaimana jabatan kepala suku akan digenggam sampai mati; sejak enam tahun menjabat tak tergantikan]. Perkumpulan ini menggelontorkan kata-kata arkaik sebagai jualan:neo-kolonialisme, neo-imperialisme, komprador, pintu baja, menjebol, gotong royong, dll. Tak tahu persis apakah generasi Fatin atau cowboy junior, misalnya, mengerti istilah-isitilah seperti itu? Toh itu tak akan penting bagi mereka.
Terlihat di sana pilihan kata yang dipilih disesuaikan dengan kehendak sang Tuan Besar: Jendral Penculik. Retorika politik Angkatan 22 Juli dengan kepala suku dari Solo ini sama persis dengan Jendral Penculik. Membaca pidato politiknya seperti mendengarkan suara Jendral Penculik dengan tokoh pengganti mirip Thukul Arwana. Maka jangan harap dalam pidatonya ada gugatan pada Jendral Penculik yang telah menghilangkan empat orang itu. Dalam perayaan yang dibikin semegah mungkin, empat orang korban penculikan tak akan disebut-sebut demi menyenangkan sang Tuan Besar di Hambalang sana. Begitu lihainya—walaupun norak—menaburkan kata-kata heroik dan penuh pekikan sampai bisa membungkus diri sebagai pejuang rakyat.
Dalam hubungan timbal balik, memang lihai taktik kepala suku dari Solo itu. Agar tak terlalu ketara kongkalikong dengan Jendral Penculik, ia bermain ditingkat daerah dengan menempatkan kader-kadernya sebagai caleg Partai Jendral Penculik, yang tentu saja jauh dari sorotan mata. Dengan begitu ia bisa mengelak: mana buktinya? Walaupun setiap waktu ia sowan pada Jendral Penculik di istananya sana.
Tapi apapun, Angkatan 22 Juli versi Tebet ini tak bedanya dengan Godot. Ia dikesankan ada, seakan berteriak-berteriak, ditunggu kehadirannya, tapi sebetulnya tak pernah ada. Sebagai sekumpulan veteran yang tak mampu melakukan apa-apa lagi selain menjongos pada Jendral Penculik, maka mereka bersandar pada mitologi masa lalu: tentang kemaha hebatan Angkatan 22 Juli.
Pada akhirnya, puisi Yoeda yang berjudul Tentang Angkatan 66, yang sadurannya seperti di bawah ini [huruf miring berarti saduran saya] cocok untuk menggambarkan Angkatan 22 Juli:
Tentang Angkatan 22 Juli
Orang bilang angkatan dua-dua juli pahlawan
penegak keadilan pembela kebenaran
generasi garda revolusi
Tuhan bilang mereka taik
jongos jendral penculik
kaki tangan jendral pembantai
babu para konglomerat
Aku bilang
mereka onggokan sampah beracun.
Sebagai pengunci. Kalau pun masih ada yang bisa dihormati dari Angkatan 22 Juli, tinggal empat orang itu saja: Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Suyat dan Bimo Petrus. Yang lain telah menjadi sampah dan ampas.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar