Kamis, 15 Agustus 2013

Korupsi Dalam Tubuh PRD



Oleh: Ragil Nugroho
[Maaf] sedikit mengganggu pesta kangen-kangenan dan mengenang heroisme.

Waktu itu— kira-kira pertengahan 2001— di salah satu kamar di sebuah Hotel di Jalan Pramuka, Jakarta Timur, penuh sesak. Seluruh pimpinan Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik [KPP-PRD] ditambah “Pimpinan Bawah” menyesaki kamar ukuran paling besar itu. Tentu saja asap rokok ikut berdesakan. Agar tak menyingung alarm asap kamar hotel, merekok dilakukan secara bergiliran. Dalam siasat menyiasati, kader PRD memang ahlinya.
Mungkin yang penting agendanya: sidang kasus korupsi dengan terdakwa Ignatius Putut Ariantoko.
Kalau klipingan koran seputar peristiwa 27 Juli 1996 dibuka, nama Putut termasuk daftar anggota PRD yang di pejara di LP Cipinang. Vonisnya paling ringan sehingga ia bebas paling dulu. Sejak keluar penjara tahun 1997, ia menduduki posisi penting sebagai kurir antara “Pimpinan Atas” dan “Pimpinan Bawah”; sebuah jabatan penting dalam organisasi Kiri semacam PRD. Tak semua anggota PRD mengetahui siapa-siapa saja “Pimpinan Bawah” karena dipilih secara tertutup dan rahasia. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui—termasuk kurir tentunya. Oleh sebab itu, kedudukan Putut tak bisa dianggap remeh.
Bisa jadi adagium yang mengatakan “pemegang kekuasaan paling dekat dengan korupsi” adalah benar adanya. Putut sebagai bagian dari “Pimpinan” partai yang mempunyai kekuasaan akhirnya terjerumus dalam korupsi.
Sebagai latar ada baiknya mengetahui situasi politik sebelum kasus korupsi terjadi. Tahun 1999 PRD memutuskan ikut Pemilu. Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai titik balik dalam perjalanan PRD. Lolos dalam Pemilu terdemokratis paska Orde Baru, membuat PRD memiliki akses ekonomi yang terbuka secara luas. Dana yang dialirkan pemerintah menjadikan PRD memiliki darah segar. Partai yang awalnya kere ini sontak naik kelas. Setiap sekretariat wilayah mempunyai komputer baru, para pimpinannya mulai berkenalan dengan telepon genggam [sebelumnya hanya pager yang paling mewah], taksi mulai dikenal sebagai alat transportasi [sebelumnya hanya dalam situasi darurat dipakai, lebih banyak naik mikrolet atau bus kota dalam situasi biasa], jasa binatu mulai dikenal sehingga pakaian tak lusuh lagi, dan tentu saja parfum [minimal minyak wangi]. Dengan kata lain, Pemilu 1999 menciptakan semacam ‘kebudayaan’ baru di antara pimpinan-pimpinan PRD—dari kebudayaan udik ke modern. Seperti biasa, setiap transisi kebudayaan pasti ada gegar. Pun, dalam tubuh pimpinan PRD.
Putut berada dalam pusaran itu. Sebagian dana dari daerah—konsepnya dana daerah mesti disetor ke pusat, istilah kerennya disentralisasi; mungkin agar mirip konsep sentralisme demokrasi ala Partai Kiri—ternyata masuk ke rekening Putut. Tak mengherankan ketika kasus korupsi itu terkuak nilai nominalnya sudah mencapai 125 juta lebih. Tentu saja banyak yang terhenyak, terutama kader-kader Partai kelas tiga. Mengapa terhenyak? Karena selama ini para kader kelas tiga menganggap partai miskin.
Sebagai gambaran kehidupan kader kelas tiga adalah sebagai berikut: tidur di sekretariat kantor Pimpinan Pusat, yang tentu saja sumpek dan bau, kerja full time untuk Partai, dan sebagai imbalan mendapat jatah makan dua kali sehari dengan lauk dua iris tempe/tahu plus sayur asam, lodeh atau sop [tentu saja lebih banyak kuahnya agar bisa mencukupi untuk banyak orang]. Tak mengherankan kalau ada orang luar datang ke sekretariat dan membawa makanan, dalam waktu 5 menit dipastikan makanan itu akan tandas dikerubungi kader kelas tiga ini [persis suasana penampungan anak jalanan].
Secara kejiawaan kondisi kader kelas tiga ini bisa dikatakan mengkhawatirkan. Ada seorang kader yang karena saking frustasinya membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Bisa dibayangkan bagaimana rasa kepala bertemu tembok. Masalah yang menghinggapinya adalah soal saling serobot pacar. Ada pula seorang kader perempuan karena merasa tersinggung melempar kader lain dengan sebilih pisau. Untung saja pisaunya meleset dan hanya mengenai tembok [korban pelemparan pisau sekarang karena mungkin pandai berkelit bisa menjadi caleg DPRI dapil Jawa Tengah dari Partai Gerindra]. Muncul juga peristiwa seorang kader dari Solo karena emosi mengejar kader lainnya dengan sapu lantai disertai dengan umpatan-umpatan rasis [kebetulan yang dikejar-kejar kader beretnis Tionghoa]. Sempat terjadi baku pukul. Tak kalah mengkhawatirkan seorang kader setiap malam naik naik ke atap kantor lantas mengisap gelek [ganja] sambil senyam-senyum sendiri. Pernah pula dua kader saling ancam dengan pisau gara-gara masalah makanan. Juga beberapa kali terjadi masalah pelecehan sexual. Karena tertekan masalah sexual [mau ke lokalisasi tak mampu; kalau yang mampu seminggu sekali akan ke Grogol atau Mangga Besar—yang dikenal dengan sebutan Mabes] sementara birahi sudah di ubun-ubun akhirnya melakukan pelecehan sexual [biasanya pada kader perempuan dari daerah yang kebetulan menginap di kantor].
Tentu yang paling mengenaskan menimpa Yahya Gunawan [semoga Tuhan menerimamu di surga]. Tekanan demi tekanan [tekanan di sini bukan sekadar masalah politik, tapi juga masalah pacar, dll] menyebabkan dia sering menenggak minuman keras. Karena uang cekak, tentu saja yang ditenggak seringkali minuman oplosan yang murah harganya. Beberapa tahun kemudian akhirnya ia meninggal karena livernya tak mampu lagi bekerja dengan baik, yang kemudian berakibat pada komplikasi. Nama seperti Yahya Gunawan ini akan jarang disebut karena memang bukan selebritis dalam lingkaran PRD.
Artinya tak seperti berita indah selama selama ini: kader-kader PRD militan, disiplin, tegar, berani dan mempunyai watak heroik lainnya. Kader-kader kelas tiga ini manusia dengan berbagai problem psikologis dan perut yang akut. Tentu saja dalam mengenang masa kepahlawanan kondisi ini tak perlu diungkap karena akan mengikis watak kesatria yang ingin ditampilkan. Manusia PRD mesti ditampilkan seperti baja, tak retak-retak dan serba sempurna.
Jadi, begitu tahu seorang kader seperti Putut mampu menyimpan uang di rekeningnya di atas 100 juta, banyak yang merasa tertipu. Bahwa hidup asketis para kader kelas tiga demi perjuangan menegakkan sosialisme yang maha mulia itu ternyata dikencingi oleh “Pimpinan” seperti Putut. Dalam kenyataanya, kader kelas tiga ini yang paling patuh pada intruksi partai tanpa tanda tanya lagi.
Sedikit gambaran. Para pimpinan kelas atas yang sudah populer namanya karena menjadi selebritis di media massa [pernah dipenjara, diculik,dll], tak pernah tinggal di sekretariat partai, rata-rata memiliki tempat kost sendiri. Dan, seorang Ketua Umum—yang sekarang tentu sudah banyak dikenal—mendapat pengawalan khusus dan fasilitas yang berbeda dengan kader kelas tiga, misalnya. Tapi bukan berarti semuanya beres. Ada seorang Pimpinan senior [kabarnya beliau nanti malam akan menyampaikan pidato politik], akibat berebut kekasih dengan simpatisan PRD di Jogja, kemudian saling tantang lewat telepon genggam. Kemudian diputuskan tempat untuk duelnya di Cerebon. Tak tahu persis kenapa Cirebon yang dipilih. Yang pasti duel itu gagal karena Pimpinan senior itu kehilangan nyali [versi sang simpatisan]. Sejak saat itu sang Pimpinan senior frustasi sehingga tak mau memimpin partai hingga berbulan-bulan [bahkan dalam persidangan kasus Putut tak hadir].
Kondisi seperti yang telah diterangjelaskan di atas itulah yang menyebabkan sidang kasus Putut sempat diwarnai kericuhan. Oleh kader-kader kelas tiga yang ada di rungan itu, Putut hampir dihakimi secara fisik. Untung situasi bisa dikendalikan. Putut tak jadi dihajar seperti maling ayam. Pada akhirnya Putut divonis melakukan korupsi dan dipecat dari PRD. Pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini: apakah uang itu ia “makan” sendiri? Ketika diadakan penyitaan terhadap harta Putut hanya diperoleh kulkas, vcd player, televisi dan sebuah sepeda motor bekas. Nilainya tentu saja di bawah 100 juta.
Kira-kira dua atau tiga tahun setelah kasus korupsi itu, Putut sempat curhat kepada mantan kekasihnya [sebut saja Melati, bukan nama sebenarnya]. Ia mengatakan sebetulnya uang itu tak dimakannya sendiri. Menurutnya sebagian dipakai oleh pimpinan-pimpinan yang lain. Curhat Putut itu sebuah kebenaran atau hanya apologia, tentu saja hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas sampai sekarang tak terkuak. PRD bisa dikatakan organisasi setengah konspirasi sehingga persoalan-persoalan [terutama menyangkut Pimpinan] tak akan berkuak secara tuntas, mengambang atau dilupakan begitu saja.
Korupsi selanjutnya relatif lebih kecil. Pada kisaran 20 juta. Fauzi Bayu, Ketua Komite Pimpinan Wilayah [KPW] Jawa Timur, yang menjadi tersangka. Kejadiannya terjadi pada tahun 2002. Kasusnya berawal dari pemilihan gubernur Jatim. Imam Utomo, mantan Pangdam Brawijaya, maju sebagai calon gubernur. Seperti sudah diketahui, paska Peristiwa 27 Juli, Imam Utomo ketika menjadi Pangdam banyak menangkap dan menyiksa aktivis-aktivis PRD. Ketika ia maju sebagai calon gubernur, PRD Jatim membongkar dosa-dosa Imam Utomo itu. Akhirnya Imam Utomo berhasil mendekati Fauzi Bayu. Dari kesepakatan, agar PRD tak menyerang lagi, Imam Utomo memberikan imbalan “uang tutup mulut” sebanyak 20 juta. Nah, uang ini tak dilaporkan Fauzi Bayu pada Pimpinan Pusat. Atas kejadian itu, ia didakwa melakukan korupsi. Oleh partai akhirnya Fauzi Bayu didakwa bersalah dan dipecat dari PRD. Seperti dalam kasus Putut, yang belum terjawab sampai sekarang: apakah uang itu dimakan sendiri oleh Fauzi Bayu, atau sudah sempat ia bagi-bagikan pada kader/pimpinan yang lain? Biar para malaikat yang menjawab.
Kasus korupsi yang ketiga dengan terdakwa Ketua Umum PRD, Yusuf Lakaseng—sekarang caleg nomer 2 dari Partai Hanura untuk daerah pemilihan Sulteng. Kasus ini terbongkar lebih disebabkan oleh masalah kesenjangan di atara Pimpinan PRD. Pimpinan yang lain melihat Lakaseng bisa hidup kecukupan sementara sebagian merasa kekurangan. Karena ada kecurigaan, pada suatu hari, buku tabungan Lakaseng “dicuri” oleh beberapa Pimpinan KPP PRD.
Sedikit menyempal. Peristiwa “kesenjangan” ekonomi ini sering menjadi letupan. Pernah dalam sebuah rapat seorang kader perempuan karena bajunya sering baru dituduh melakukan korupsi oleh seorang kader lain. Tentu saja si tertuduh nangis-nangis karena merasa tak melakukan korupsi, dan mengancam akan balik ke Lampung dan mengundurkan diri dari partai.
Kita lanjutkan. Buku tabungan Lakaseng kemudian di print out. Hasil penelusuran ternyata ada dana yang mengalir ke rekening Lakaseng yang tidak dilaporkan ke bagian keuangan. Nilainya berkisar 20 juta. Pengusutan dilakukan. Dari hasil persidangan di partai [Lakaseng tidak hadir dan hanya menulis sepucuk surat[, diputuskan ia bersalah dan dipecat dari PRD.
Kasus korupsi ternyata tak memupus karier politik Yusuf Lakaseng. Setelah dipecat dari PRD ia bergabung dengan Partai Bintang Reformasi [PBR]. Uniknya, dalam Pemilu 2009 PRD melebur dalam PBR, dan tentu saja ketemu lagi dengan Lakaseng. Mungkin di situlah keunikan politik. Dari PBR kemudian Lakaseng hijrah ke Nasdem. Ketika Nasdem retak, ia melompat ke Hanura. Sekarang sebagai caleg DPR RI, ia mempunyai slogan yang keren dalam spanduk dan balihonya. Bunyinya begini: “Politik Itu Jalan Kehormatan. Jangan Kotori Dengan Korupsi !!!” [tiga tanda seru sesuai tulisan aslinya].
Begitulah. Tentu kisah korupsi ini tak elok disampaikan dalam perayaan hari lahir. Tentu saja bila diungkap akan merusak suasana pesta dan romatisme pada masa-masa revolusioner. Masak, PRD yang sering mendaku menjadi partai Kiri paling revolusioner, pimpinannya pernah terlibat korupsi. Jijik banget, kan? Oleh sebab itu, lebih baik dikubur dalam-dalam dalam suasa suci dan sakral itu.
[Mungkin] kasus-kasus korupsi dalam PRD itu merupakan sumbangan terbaik bagi Indonesia [semoga nanti ada yang mau membukukannya]. Bisa jadi hanya di PRD kader-kadernya mengkorup duit partainya sendiri. Memang berbeda dengan partai lain yang angota-anggotanya mengkorup uang negara untuk kepentingan sendiri dan partainya, di PRD kebalikannya. Memang tak ada duanya PRD.
Pada akhirnya: Tujuan kita satu, Ibu: menggarong duit partai.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar